Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2024

Bike Camp - Pantai Dungun Laut, Jawai-Kab.Sambas [Kalimantan Barat-INDONESIA]


Lokasi Pantai Dungun Laut : https://maps.app.goo.gl/hsXNgtET5t8R13jX7


Perjalanan dari Pontianak menggunakan bis malam. Tiba di Pemangkat sekitar jam 5 subuh. Lanjut naik kapal menyeberang dari dermaga Penjajap di Pemangkat menuju dermaga Sungai Batang di Jawai dengan harga tiket Rp 7.000,-.
Bersepeda dari dermaga Sungai Batang menuju Pantai Dungun Laut sambil melintasi tepian pantai (dimulai dari Pantai Batu Lapak-Pantai Putri Serayi-Pantai Wisata Bahari) sejauh kurang lebih 11,8 KM.

Pantai Dungun Laut adalah pantai yang sepi, kebutuhan makan lebih baik dibawa terlebih dahulu atau bisa pergi belanja ke beberapa warung di Desa Dungun ataupun di Pasar Sentebang (berjarak 3KM dari pantai Dungun Laut). Cuma ada dua warung di tepi pantai Dungun, camping bisa dilakukan di halaman warung ataupun di area lainnya. Tidak perlu ada izin resmi kepada otoritas setempat, tapi kalau mau pemberitahuan cukup kepada kepala dusun saja.

Perjalanan pulang melalui dermaga penyeberangan Perigi Piyai menyeberang ke dermaga Kuala Tebas. Lanjut bersepeda dari Tebas hingga ke Singkawang.





















#bikecamp
#bikecamping
#pantai
#sepeda
#sepedagunung
#jawai
#sambas
#pantai
#dungunlaut

Kamis, 22 September 2022

MENYIKAPI PELECEHAN SEKSUAL DI SKENA UNDERGROUND PONTIANAK

"Kalau kita bisa begitu marah dengan sebuah pendapat pribadi dari seorang seniman yang mengatakan bahwa underground itu kere, bagaimana mungkin kita hanya adem ayem saja dengan sebuah laporan mengenai pelecehan seksual di skena kita?????"

  

Minggu (14 September 2022) siang aku mendapat kiriman screenshot instagram story dari akun @kuburaya_metalheads yang berisi laporan dari salah seorang penonton gigs atas pelecehan seksual yang dia alami saat menonton gigs. Gigs yang dimaksud adalah gigs bertajuk "KUBU GRINDER" yang diselenggarakan pada 10 September di Coffee House, Jl.Sungai Raya Dalam-Pontianak. Akun @kuburaya_metalheads sendiri adalah akun panitia penyelenggara gigs tersebut

Aku pribadi memberi apresiasi pada panitia karena sudah terbuka atas kejadian ini. Melalui percakapan yang kulakukan bersama admin akun instagram tersebut, aku juga melihat panitia mau mendengar dan menerima pelapor (bagiku dalam hal ini si pelapor adalah korban pelecehan seksual). Akan tetapi aku merasa janggal dan jujur saja tidak puas dengan pernyataan dari panitia yang tertulis di bagian bawah instagram story tersebut. Hanya meminta teman - teman perempuan untuk berhati - hati saat menonton gigs itu tidak ada bedanya seperti melarang perempuan untuk keluar rumah di malam hari karena bahaya yang sama menghadapi pelecehan seksual ataupun tindakan kriminal lainnya.

Yang kita impikan dan terus kita perjuangkan tentulah sebuah keadaan yang aman dan nyaman bagi semua orang. Begitu juga didalam sebuah gigs musik, semua orang tanpa peduli apapun ekspresi gender nya (perempuan/laki-laki/trans/non) memiliki hak untuk merasa aman dan nyaman saat menghadiri dan menonton gigs musik. Hati - hati ya tentu saja hati - hati, kita semua juga selalu berhati - hati sejak bangun tidur di pagi hari. Tapi tindakan - tindakan kriminal apalagi dalam konteks pembicaraan kita ini adalah pelecehan seksual, itu terjadi bukan karena kebetulan, ada sistem yang membentuknya, ada kesenjangan kelas yang menjadi latar belakangnya. Dan orang - orang yang melakukan pelecehan seksual itu harus dihentikan, tidak cukup hanya dipersulit ruang gerak aksinya dengan menyuruh calon korban untuk berhati - hati.

Hal lain sangat tidak diakomodir dalam pernyataan panitia adalah, tidak ada kecaman terhadap aksi pelecehan seksual, tidak ada kecaman terbuka terhadap pelaku. Hal ini sangat penting!

Jika kita sungguh-sungguh ingin membentuk skena dan khususnya gigs sebagai ruang yang aman dan nyaman tanpa pelecehan seksual, maka sudah semestinya tidak ada ruang bagi pelaku. Jika memang begitu sulit untuk menemukan pelaku (mungkin jika karena suasana moshpit begitu ramai dan chaos, atau karena permintaan korban sendiri), maka paling minimal kita harus menyerukan dan menyebarkan kecaman terhadap pelaku. Mungkin dia akan tidak perduli, tapi seruan yang kita buat akan membuat isu ini membesar dan menjadi perhatian bersama. Tujuannya untuk mencegah hal ini terulang kembali dan membangkitkan kewaspadaan semua yang terlibat di skena underground ataupun gigs.

Jika kita memang memiliki keseriusan dalam menanggapi hal ini, maka ada baiknya langkah awal yang harus ditempuh adalah membuat diri kita terpapar informasi dan edukasi yang benar mengenai pelecehan seksual. Pada saat tulisan ini dibuat, di Indonesia sudah ada sebuah payung hukum untuk mencegah/menangani tindak pidana kekerasan seksual yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Payung hukum tersebut juga sudah bisa menjadi bacaan yang baik untuk memahami apa itu pelecehan seksual, selain tentu saja akan lebih baik lagi jika kita membaca berbagai tulisan lainnya untuk memperjelas. Sebagai contoh aku mengutip dari salah satu artikel di Kompas.com disebutkan bahwa pelecehan seksual adalah segala perlakuan tidak menyenangkan yang mengarah pada hal-hal yang berbau seksual. Dilanjutkan dalam artikel tersebut bahwa contoh perilaku yang termasuk sebagai pelecehan antara lain:

- Menyentuh, memeluk, atau mencium tanpa izin

- Memberikan tatapan bernafsu dan mencurigakan

- Mengeluarkan sebutan, candaan, atau perkataan yang mengarah ke hal-hal seksual, seperti cat calling atau menggoda orang lewat dengan sebutan tak pantas

- Paksaan untuk menerima ajakan kencan atau berhubungan seksual

- Mengajukan pertanyaan tidak pantas tentang kehidupan pribadi bahkan anggota tubuh yang bersifat personal

- Perilaku “sok akrab” dan merasa berhak menyentuh bagian-bagian tubuh orang lain tanpa izin

- Mengirim foto, video atau gambar seksual tanpa diminta

- Memberikan komentar tidak pantas di sosial media

- Stalking atau menguntit

- Terus memaksa untuk berkomunikasi meski sudah ditolak

Dari apa yang aku kutip diatas saja sudah bisa kita sepakai bahwa apa yang dilaporkan oleh seorang penonton di gigs Kubu Grinder adalah termasuk dalam aksi pelecehan seksual, karena ada seorang penonton lainnya yang memanfaatkan kesempatan saling merangkul saat headbang untuk meraba bagian tubuh yang tidak diperkenankan oleh pelapor. Aku kira tidak terlalu sulit untuk memahami ini jika teman - teman memahami apa itu batasan dan bisa mengenali apa itu intensi/tujuan kita sesungguhnya. Misalnya mengenai batasan, dalam bersalaman sentuhan fisik antar kedua telapak tangan adalah hal yang sama - sama disepakatai oleh dua pihak yang berjabat tangan akan tetapi jika salah satu jari telunjuk orang yang berjabat tangan digerak-gerakkan untuk menggelitik telapak tangan orang yang berajabat tangan dengannya maka itu sudah melewati batasan yang disepakati. Dan misalnya dalam konteks aktivitas moshpit/pogo/headbang yang berarti sebuah rangkaian gerak tubuh dalam menikmati musik. Apa sebenarnya tujuan kita dalam melakukan hal tersebut? Jelas untuk mengekspresikan diri kita pada saat menikmati musik, bisa disepakati??? Sangat mungkin terjadi tabrakan ataupun sekedar sentuhan fisik diantara beberapa orang yang melakukan hal tersebut, karena pada dasarnya semua sedang asik dengan aktivitasnya masing - masing. Tapi jika ada satu telapak tangan yang bisa menyentuh/menggenggam/mengelus bagian tubuh orang lain misalnya payudara, maka ini bukan sentuhan fisik yang tidak disengaja. Sekali lagi koreksi diri sendiri dan pertanyakan tujuan mu!!!!

Ada begitu banyak tindakan yang terkategori sebagai pelecehan seksual/kekerasan seksual baik itu offline maupun onine.(Online?? Iya betul, ada yang namanuya Kekerasan Berbasis Gender Online atau disingkat KBGO, materi mengenai ini aku sertakan diakhir tulisan). Ini bukan sebagai alarm bahaya untuk kita takut. Justru dengan informasi seperti ini bisa menjadi panduan bagi kita untuk lebih menghargai sesama lagi, siapapun kalian dan dengan siapapun kalian berinteraksi. Untuk menghargai sesama manusia dalam derajat yang sama, bukankah hal ini selalu diulang - ulang dalam berbagai lirik lagu band - band underground??? Apakah itu sekedar slogan ataukah itu adalah kata - kata yang sungguh kita hidupi?? Aku akan ulangi sekali lagi, jika kita bisa bereaksi dengan spontan ketika ada yang mengatakan underground itu kere, punk itu kriminal, ataupun anak metal itu pemuja setan, apakah terlalu sulit bagi kita untuk marah saat ada pelaku pelecehan seksual di dalam skena underground ini?? Kamu, aku, atau siapapun, baik itu laki-laki, perempuan, transgender, non-biner, semua bisa saja jadi korban pelecehan seksual. Dan semua juga sangat mungkin menjadi pelaku, karena kita tidak pernah teredukasi dengan baik mengenai hal ini. Mungkin kita pernah diajari mengenai saling tolong menolong, tapi sejauh mana ktia diajarkan mengenai kesetaraan seksual? Belum lagi doktrin patriarkis yang sudah mengakar didalam masyarakat kita dan merasuki pikiran setiap orang baik itu laki - laki ataupun perempuan. Kita semua adalah anak haram patriarki.

 

 

Aku rasa sudah saatnya kita bangkitkan perhatian bersama pada masalah ini, tidak berlebihan juga jika kita tetapkan #DARURAT PELECEHAN SEKSUAL di skena underground ini. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, pertama - tama adalah dengan melihat ini dalam perhatian yang serius. Milikilah concern, luangkan waktu untuk membaca dan belajar(aku coba bagikan beberapa referensi nanti diakhir tulisan ya), bicarakan topik ini di tongkrongan kalian, jangan terlalu tabu atau menganggap ini sebagai sesuatu yang kaku dan rumit untuk dibahas di tongkrongan. Selain itu sebagai seorang individu, kita masing - masing bisa berusaha menjadi ruang aman bagi teman - teman kita. Luangkan waktu dan energi untuk mendengarkan teman kita, apalagi jika mereka bercerita mengenai perbuatan tidak menyenangkan ataupun pelecehan yang mereka alami. Dengarkan mereka dan tempatkan diri kita di pihak mereka. Belajarlah untuk tidak membuat candaan yang merendahkan jenis kelamin, ekspresi gender, ataupun perilaku seksual. Aku tahu ini akan sangat sulit diawal, tapi tujuan yang baik sangat layak untuk diusahakan.

Untuk penyelenggaraan gigs, aku bisa memahami bahwa memang sulit untuk bisa memantau setiap sudut venue tempat penyelenggaraan gigs. Maka dari itu semestinya ini adalah tugas bersama, tidak hanya panitia, tapi juga penonton, dan juga band yang tampil. Aku tahu ada banyak slogan "Kami bukan rockstar!" yang berulang kali diucapkan oleh band - band underground. BAIKLAAAHH. Sekarang buktikan hal tersebut, luangkan diri untuk terlibat pada banyak aktivitas diluar dari bermusik, jangan cuma fokus upgrade perangkat bermusik dan referensi saja. Jangan cuman ucapkan kalimat standar "Terima kasih udah datang dan nonton, acara ini keren banget, band nya keren banget", tapi bisa mulai suarakan kewaspadaan terhadap pelecehan seksual dari atas panggung. Sembari kita tetap memegang teguh prinsip - prinsip kesetaraan gender, karena menciptakan ruang aman bagi perempuan dan menjauhkannya dari bahaya pelecehan seksual bukan karena kita memandang teman - teman perempuan sebagai sosok lemah yang "harus ditolong". Alih - alih memiliki sudut pandang yang bias gender seperti itu, kita sudah saatnya juga untuk sadar bahwa ada ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan dalam relasi sehari - hari kita. Perempuan yang jatuh saat moshing juga layak mendapat uluran tangan yang sama juga disaat laki-laki yang jatuh saat moshing. Begitu juga sebaliknya.

Untuk panitia ataupun kolektif penyelenggara gigs, aku rasa bisa mulai menyuarakan atau mendiskusikan ini sejak pelaksanaan technical meeting bersama band yang akan tampil. Peringatkan juga untuk kewaspadaan terhadap pelecehan seksual di poster gigs ataupun di caption promo sejak jauh hari sebelum penyelenggaraan gigs. Pada saat penyelenggaraan, jika memang sangat diperlukan maka sebaiknya hidupkan lampu. Aku tahu ini akan terlihat sangat janggal, tapi jika memang ini demi saling menjaga, maka biarlah venue memperoleh pencahayaan yang cukup sehingga kita bisa saling memperhatikan dan menjaga satu sama lain. Untuk tindakan yang lebih serius, sebagaimana kita selalu menyiapkan satu dua orang sebagai tim keamanan untuk memantau jangan sampai ada yang berkelahi di moshpit. Aku rasa tim tersebut juga bisa ditambah jumlahnya dan dilengkapi juga dengan tugas tambahan untuk memantau bilamana ada perilaku mencurigakan yang mengarah kepada pelecehan seksual. Siapkan tempat/ruang/sudut yang aman jika memang ada korban yang melaporkan tindakan pelecehan seksual didalam gigs (ini juga berlaku jika laporan diterima setelah penyelenggaraan gigs selesai). Yang pasti terus waspada dan terus suarakan!

Jika kalian memang merasa ada banyak hal baik dan bermanfaat yang didapat disini, maka semestinya kita juga segera marah jika ada yang melakukan pelecehan di skena ini. Pelaku pelecehan seksual harus disingkirkan dari skena underground. Tidak ada batasan - batasan untuk mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah pelecehan kecil dan yang itu adalah pelecehan yang cukup besar. Pelecehan seksual adalah pelecehan seksual!

                                                                                     

 

 

Referensi :

- https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/02/173747420/banyak-yang-belum-tahu-apa-saja-yang-termasuk-pelecehan-seksual?page=all.

- https://magdalene.co/story/mengenal-definisi-pencabulan-pelecehan-seksual-dan-pemerkosaan

- "Memahami dan Menyikapi Kekerasan Berbasis Gender Online-Sebuah Panduan", booklet yang diterbitkan oleh Awas KBGO! dan bisa diunduh gratis di https://awaskbgo.id/

Rabu, 07 September 2022

Liner Notes : LINIMASA - Sekelebat Bisu


Arwork oleh : Desainer Pemalu

Linimasa adalah band yang kutemukan dalam momen tak terduga disaat perayaan Record Store Day(RSD) 2016 di Restoran Ayam Sugeban Pontianak. Pada tahun tersebut sedang ramai serangan "folk" di dunia musik Indonesia. Dan Linimasa merupakan salah satu band yang merilis CD di gelaran RSD Pontianak 2016 saat itu. "Band ape ni bang?", aku bertanya kepada Bang Bian salah seorang rekam satu tim yang turut menggarap RSD Pontianak 2016. "Katenye sih folk", begitu singkat dan kurang yakin Bang Bian menjawab. "Hemmmm, folk lagi, oke folk seperti apa lagi nih", begitu aku merespon jawaban Bang Bian hanya didalam hati. 

Linimasa tampil di acara tersebut selepas break adzan isya, momen diawal malam disaat semua pengunjung yang sudah hadir dari sore dalam kondisi segar entah sehabis menunaikan ibadah sholat ataupun sekedar mengisi perut dan pengunjung lain mulai ramai berdatangan. Aku masih ingat Linimasa tampil dengan konsep dua gitar akustik, satu gitar bass, dan cajon, cukup folk? Tapi bagiku itu tidak penting karena yang benar - benar membuatku terkesan adalah suara sang vokalis, Dika. Dika bernyanyi dengan suara yang bagaikan lirih tapi tidak sedih. Karakter suara sang vokalis bertemu dengan sangat baik dengan permainan kedua gitaris, menghasilkan musik yang lembut tapi tidak membuai manis malah seperti ada kesan sedikit gelap yang tidak suram didalamnya. Kompleksitas seperti itulah yang kutangkap dari penampilan Linimasa saat itu. 

Delapan tahun berlalu, Linimasa kerap tampil di berbagai panggung yang ada di kota Pontianak. Sejujurnya kesan pertama yang pernah hadir sewaktu menyaksikan mereka di RSD Pontianak 2016 tidak pernah terulang, terutama sekali karena mereka berubah format menggunakan gitar elektrik dan drumset dan selain itu juga formasi personil yang berubah - ubah. Kerapkali mereka mengcover lagu band lain yang semakin menegaskan bahwa mereka bukan seperti apa yang mereka tampilkan diawal kemunculannya. Hanya satu yang tak pernah berubah, Dika sang vokalis dan suaranya yang khas. Beberapa hari lalu, Eru (salah satu gitaris mereka yang ada di formasi terbaru) mengirimkan sebuah lagu terbaru dari Linimasa. Sebuah kehormatan karena aku ditunjuk untuk membuat liner notes bagi perilisan single terbaru linimasa. Wahh delapan tahun!! Ada kejutan apa yang akan mereka tampilkan sekarang?

Sepertinya kehadiran Eru, Boteng(bass), serta Andi(drum) memang memberikan pengaruh besar bagi perubahan musik Linimasa. Selain itu sepertinya jarak yang memisahkan Dika yang harus bekerja jauh diujung Kalimantan barat dengan personil lainnya juga berpengaruh pada perubahan musik Linimasa, ya paling tidak sudah jelas jarak yang memisahkan itu juga berpengaruh pada lamanya waktu progress dari band ini. Sekelebat Bisu memberi tahuku bahwa mereka ingin sungguh jadi musik yang berformat full band, bahkan mereka ingin menjadi lebih nge-rock!! Petikan gitar Eru yang terpengaruh sound - sound indie rock bertemu dengan kekuatan pukulan drum dari Andi yang sepertinya ingin mengeluarkan semua kepenatan pekerjaannya diatas kursi drum. Dika sang vokalis tetap memiliki karakter yang khas, ada desahan lirih dalam tiap nada yang dia keluarkan, namun kini sudah beranjak dari suasana cozy ala cafe seperti yang ditampilkan waktu RSD Pontianak 2016 menjadi seorang vokalis karismatik dengan suara yang lebih powerfull diatas panggung besar. 

Kalau aku ulangi  lagi momen 2016 ketika bertanya pada Bang Bian band seperti apa Linimasa itu, sepertinya dia akan dengan yakin menjawab "Alternative Rock!!!" Selamat untuk Linimasa atas buah dari perjalanan selama delapan tahun ini, tolong jangan buat kami menunggu delapan tahun lagi.

Rabu, 23 Maret 2022

Perjalanan pulang menuju ketidakpastian yang menyenangkan (Sebuah interpretasi sederhana dari lirik The Lumineers - Angela)

 


Tokoh Angela dalam lirik lagu ini bagikan seseorang yang hidup dan tumbuh besar dalam sebuah lingkungan yang asing baginya. Dia berada disana, mengalami segala sesuatunya, tumbuh, namun tidak pernah merasakan keterhubungan dengan lingkungan tersebut.

Maka Angela pun mulai melakukan perjalanannya. Sebuah perjalanan yang seolah – olah pergi meninggalkan, tapi sesungguhnya adalah sebuah perjalanan pulang. Namun perjalanan pulang yang dimaksud pun bukan sebuah perjalanan dengan sebuah tujuan yang spesifik.

Angela tetap berada dalam sebuah perjalanan yang masih berisi ketidakpastian. Pikiran – pikiran yang berkecamuk mengenai ketidakpastian tersebut dibiarkannya tetap berada didalam pikiran. Namun ini tetap sesuatu yang jauh lebih baik dan menyenangkan, disbanding tetap bertahan pada sebuah lingkungan yang bukan miliknya sendiri.

Angela berada dalam sebuah perjalanan yang tetap asing, namun dia merasakan “rumah” didalam keterasingan tersebut. Jauh lebih baik daripada berada disebuah lingkungan yang pasti dan nyata, namun tidak terhubung dengan dirinya sendiri. Perjalanan ini tetap dilaksanakan, penuh kitakpastian, namun tetap dengan sebuah keyakinan. Keyakinan untuk pergi meninggalkan kepastian yang tidak menyenangkan, menuju sebuah rumah yang sudah lama diimpikan. Sebuah rumah yang masih dituju dan dicari.


Ditulis oleh : ALCAS


Minggu, 06 November 2011

Cinta, Hidup, dan Persahabatan.



Tiga kata yang indah yang aku baca di cover album sebuah band dari Pontianak, Lemon Tea. Itu adalah judul album terbaru dari mereka. Sebuah band yang sudah ada semenjak sekitar tahun 2005/2006 di kota ini.


Aku suka band ini, musik nya bagus, suara penyanyinya juga enak didengar. Kalau memang begitu saja, berarti banyak juga band lain yang patut aku sukai. Tapi band ini juga punya hal lain yang cukup pantas menjadi alasan pendukung sehingga mereka patut disukai, dan mungkin dicintai.


Aku tidak terlalu ingat kapan pertama kali aku mendengar lagu mereka ataupun mengenal mereka. Seingatku dulu pertama kali kudengar lagu mereka di radio lokal. Sebuah lagu yang kalau tidak salah berjudul Persahabatan. Bisa mendengar sebuah lagu karya band dari kota sendiri dan lagunya juga bagus, untuk saat itu kedua hal itulah yang membuatku senang dan menyukai band ini.


Aku tidak terlalu kenal dengan orang – orang di dalam band ini secara personal. Aku juga tidak terlalu sering menonton mereka manggung. Seingatku hanya pernah 3 kali aku menonton mereka ketika sedang manggung. Dan dua diantaranya adalah yang sangat berkesan, terutama yang baru saja kulewati malam ini.


Informasi mengenai acara launching album kedua mereka baru saja kudapatkan satu hari sebelum acaranya. Entahlah beberapa waktu kebelakang aku memang agak sangat sering ketinggalan beberapa informasi acara – acara musik di kotaku sendiri. Tapi toh itu tak membuatku menyesal, karena memang pada beberapa informasi acara musik yang kudapatkan dan kemudian kudatangi langsung acaranya, sangat sedikit dan mungkin hampir tidak ada yang membuatku benar – benar terkesan atau minimal pulang dengan rasa puas.

Beruntunglah malam ini aku pulang kerumah dengan memori indah akan acara musik yang baru saja aku lihat, ini merupakan satu dari sedikit acara musik yang kutonton dan benar – benar begitu memberiku kesan yang menyenangkan. Beruntung juga hujan yang sudah beberapa hari ini rutin beraksi bisa libur dulu untuk hari ini. Memang masih ada sisa sedikit aksi kecil mereka hari ini, tapi itu tak terlalu berhasil menghambat niatku untuk mencari hiburan malam ini.


Acara launching album Lemon Tea diadakan disebuah gedung yang pernah memiliki cerita tersendiri bagi scene musik “bawah tanah” kota ini, gedung Taman Budaya. Gedung yang sebenarnya disetting khusus bentuknya untuk pertunjukan teater, dulu sempat menjadi langganan menjadi tempat berlangsungnya acara – acara musik “bawah tanah”. Satu hal yang kusuka dari gedung ini adalah, ukurannya yang tidak terlalu besar. Acara musik yang dilakukan disebuah gedung yang berukuran tidak terlalu besar maka akan membuat acara itu menjadi acara yang juga tidak terlalu besar. Inilah yang lebih aku suka lagi, acara yang tidak terlalu besar. Acara yang tidak terlalu besar berarti akan berisi orang – orang yang tidak terlalu banyak, dan biasanya kebanyakan orang – orang itu juga cukup saling kenal. Jika sudah begitu maka acaranya akan menjadi lebih akrab, semuanya menjadi terasa begitu dekat. Jarak antara panggung tempat band bermain begitu dekat dengan tempat duduk penonton. Penonton dapat melihat dengan cukup jelas band yang tampil, band yang tampil juga dapat melihat dari dekat bagaimana ekspresi para penonton saat melihat penampilan mereka. Semua kedekatan inilah yang bagiku merupakan nilai penting dari sebuah acara musik. Entahlah, aku bukannya anti konser besar, tapi konser kecil yang akrab sudah jelas dapat memberiku kepuasan dan rasa senang berlebih.


Jadi begitulah, semua suara – suara yang dihasilkan dari berbagai alat musik yang dimainkan dari jarak yang tidak begitu jauh dari tempat dudukku dapat kuterima dengan baik melalui telingaku, bagaimana mereka memainkannya juga dapat kuperhatikan dengan cukup baik melalui mataku.

Lemon Tea tampil setelah sebelumnya ada dua band yang membuka acara ini. Tidak terlalu banyak yang bisa aku ceritakan dari kedua band sebelumnya, mereka bagus. Lemon Tea tampil dengan formasi yang sama seperti yang pernah kulihat di penampilan mereka sebelumnya. Didukung oleh teman – temannya, formasi inti dari Lemon Tea sebenarnya adalah Irma(vocal), Ferdy(guitar), Syam(bass). Dalam launching ini hampir semua lagu yang ada di album terbaru mereka dibawakan dan ditambah beberapa lagu dari album sebelumnya. Sepertinya mereka bukan tipe band yang akan mengajakmu lompat – lompatan, tapi penampilan panggung mereka cukup untuk membuat kamu terdiam menghayati, tersenyum menikmati, ataupun bernyanyi bersama serasa acara yang kamu datangi adalah karaoke massal.


Tidak banyak yang berubah dari penampilan mereka di panggung, tapi mereka memang tetap selalu menampilkan semuanya sebaik mungkin di atas panggung. Penampilan yang cukup baik diatas panggung melebihi apa yang ada didalam rekaman bagiku adalah hal yang penting bagi sebuah band. Terutama juga buatku sendiri, karena aku memang lebih suka menonton langsung sebuah band dibandingkan mendengarkan rekamannya terus menerus. Mendengar bagaimana si vokalis memberi sedikit penjelasan ataupun cerita mengenai lagu – lagu yang akan dimainkan, menebak – nebak lagu berikutnya yang akan dimainkan saat sang vokalis tak memberi petunjuk selain intro yang sudah dibiarkan berjalan, dan tentunya ikut bernyanyi pada beberapa lagu yang sangat dihapal, seolah – olah tidak ada jarak ataupun batas penonton dan penampil dalam acara tersebut.


Jadi secara keseluruhan aku memang sangat menikmati ketika Lemon Tea memainkan lagu – lagu dari album sebelumnya. Karena memang setelah kudengarkan seluruh lagu di dalam CD album terbarunya pun, jika harus memilih maka aku memang lebih suka dengan album sebelumnya. Tapi bagiku bukan itu inti dari semua kepuasan dan kesukaan – kesukaannku ini. Bagaimana aku puas akan acara musik malam ini, dan bagaimana aku bisa tetap menyukai band ini, aku rasa masih berhubungan dengan judul album mereka yang baru ini “Cinta, Hidup, dan Persahabatan”. Pada banyak orang bermain musik dan membentuk sebuah band adalah sebuah hobi, walaupun pada beberapa orang yang lain hobi itu merupakan tempat mereka menggantung mimpi dan harapan agar suatu saat mereka tidak sekedar menghidupi hobi tersebut tapi juga bisa hidup dari hobi tersebut. Aku tidak tahu apa sebenarnya dasar ataupun tujuan Lemon Tea hingga bisa tetap bertahan hingga saat ini. Pada beberapa hal aku melihat mereka selayaknya kebanyakan orang lainnya, umur yang semakin bertambah, punya sesuatu hal lain yang dikerjakan untuk tujuan menafkahi hidup, dan tentu punya rencana – rencana lain yang harus dilaksanakan dihidupnya. Tapi mereka tetap bisa mempertahankan apa yang telah mereka mulai bersama – sama. Sebuah cerita panjang di jalan yang tidak selalu lurus yang mereka lalui bersama. Walaupun aku tidak terlalu kenal dengan mereka semua, tapi aku yakin ada banyak permasalahan dan hambatan yang harus mereka hadapi dan lewati baik itu berkaitan dengan band mereka ataupun yang datangnya dari luar band mereka. Tapi toh, setelah sekian lama mereka tetap kembali lagi, mereka tetap masih ada lagi. Hal inilah yang terus aku pikirkan tadi sementara perhatianku juga kutujukan kepada setiap lagu – lagu yang mereka mainkan. Terkadang kehidupan kita sehari – hari dengan segala kegiatan yang mengisinya membuat kita lupa akan banyak hal. Kita menjadi fokus pada satu hal, tapi sementara ada banyak hal lain yang tidak kalah penting yang kita lupakan dan kita tinggalkan. Kita terus berjalan tapi kita tidak menyadari kalau kita sudah hampir tidak menapak lagi di jalan yang sedang kita lalui.


Disaat itulah kita ingat masih ada tiga hal yang kita miliki cinta, hidup, dan persahabatan. Tiga kata ini bukan tersusun berdasarkan skala prioritas, tapi ketiganya masing – masing sangat penting dan merupakan satu kesatuan yang juga penting untuk selalu diingat. Hidup tidak cuma mengenai berusaha keras mati – matian untuk memastikan besok masih akan ada yang mengisi meja makan kita, hidup juga tidak hanya untuk bersaing dan berlomba mengejar posisi cuma sekedar untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat dari yang lainnya. Ada hal lain yang pernah kita lakukan dengan dasar rasa suka, ada hal lain yang pernah kita lakukan dengan tujuan bersenang – senang. Ada hal lain dimana kita meletakkan cinta sebagai dasarnya dan persahabatan sebagai pengikatnya. Disitulah ada hidup yang kita miliki, ada hidup yang masih bisa kita syukuri, dan tentu terus kita hidupi lagi dan lagi.


Dan lagu – lagu pun sudah sekian banyak yang dimainkan oleh Lemon Tea diatas panggung, perasaanku pun semakin puas dan puas seiring bertambahnya jumlah lagu yang dimainkan. Hingga klimaksnya adalah pada lagu terakhir yang berjudul Persahabatan. Aku tidak mengharapkan mereka akan tetap terus ada dan aktif selalu. Tapi suatu saat nanti saat aku melihat mereka lagi memainkan lagu – lagu mereka dihadapanku, saat itulah aku yakin bahwa aku juga masih meletakkan cinta pada hal – hal yang aku cintai dan aku yakini. Persahabatanku dengan hal – hal itulah yang akan tetap kupelihara ikatannya dan kubiarkan hidup bersamaku.



*tulisan ini sepertinya tidak jelas arahnya, apakah ini liputan acara, review album, atau apalah, ini hanya curahan hati dan pemikiranku dari sebuah momen menyenangkan yang baru saja sudah kulalui malam ini. J

Sabtu, 12 Maret 2011

I TRY TO BE A GOOD BOY BUT I'M FUCK!

Sejujurnya itu adalah judul lagu keren dari band keren yang bernama THE FRANKENSTONE(mereka dari Jogja, maen punkrock). Cuma bedanya judul mereka itu “I Try To Be A Good Boy But I’m Fucked”. Nah, kalo aku pake sama persis seperti judul lagu mereka itu, aku rasa artinya udah gak sama dengan isi tulisan ini. Tapi kalimat yang menjadi judul lagu mereka itu tiba – tiba kerasa pas banget dengan hari pertamaku di umur yang baru. Sebenarnya aku gak pernah terlalu perduli sama yang namanya selebrasi – selebrasi(diluar selebrasi keagamaan). Malam tahun baru, hari pertama di tahun yang baru, dan bahkan hari ulang tahun!!! Apa yang perlu di perdulikan??? Toh menurut aku, setiap hari dan kalo bisa setiap saat, kalo emang kamu mau melakukan refleksi diri, atau berpikir mengenai hidup yang sudah dilalui, semua bisa dilakukan. Gak susah, dan gak usah lama – lama nunggu selebrasi di tanggal – tanggal tertentu.

Tapi di hari pertama di umur yang baru ini, aku bener – bener udah malu dan ngerasa udah ngecewain. Benar!!!! Aku udah ngelewatin begitu saja sebuah momen yang seharusnya jadi “bagus”.

Untuk menjadi dewasa adalah hal yang menakutkan, dan kayaknya gak berguna dan gak perlu dehh…. Tapi aku juga gak mau jadi orang yang bertindak nyusahin orang lain. Aku gak malu terlihat kekanak – kanakan, kalo memang kekanak – kanakan nya itu keren. Aku gak malu jadi seperti anak kecil, toh masa – masa ketika kita jadi anak kecil itu adalah masa – masa terindah. Tapi untuk menjadi orang yang nyusahin orang lain, apalagi sampe ngecewain orang lain, that’s one of my biggest fear. Benar!!! Aku udah ngelewatin begitu saja sebuah momen yang seharusnya jadi “bagus”.

Aaaahhhhhhh, tulisan ini juga bakal gak ada gunanya sepertinya. Gak bakal ada kesimpulan disini kayaknya. Ini bener – bener sebuah spontanitas dari sebuah campuran yang sempurna dari rasa kecewa dan malu. Sebuah campuran yang sama sekali gak perlu kalian coba. Tapi aku yakin, kalian bisa saja suatu saat tanpa sadar masuk ke campuran itu. Aaahhhhhh, mau ngapain sih aku di tulisan ini???

*Big thanks for GOD for giving one more year to live. And also to you, someone who has give me a packet of great things. Sorry for disappointing you…. :-(

Jumat, 22 Januari 2010

HOreee................. TRADE is GOOD!!!!!!!!!!!!





WUuuuihhh, gak tau deh senangnya kayak gimana waktu saya terima paket dari Agung "For Tomorrow Zine". Sebuah amplop ukuran sedang yang isinya adalah : Satu zine For Tomorrow#8, Stiker vegetarian brothers, stiker Scream Of Oi, Dua Album Cd KOmpilasi Together#1, Sebuah CD Demo Scream Of Oi(didalamnya ada stiker Scream Of Oi juga looh), dan secarik kertas berisi pesan singkat dari Agung.
MEmang sebelumnya(kira-kira beberapa minggu sebelumnya) saya sudah pernah mengirimkan scene stuff dari Pontianak untuk Agung. Waktu itu isi paket saya : Revival Newsrockletter#12, Pretty Power zine#1, The Brews Newsletter#1, Mother Fucker zine#2&#3, dan juga sebuah CD yang berisikan banyak MP3 dari band-band Kota Pontianak. MEmang sebelumnya kita udah sepakat mau barter atau banyak yang bilang trade, karena memang For Tomorrow zine adalah salah satu yang membawa saya untuk memulai sedikit-sedikit menjauhi daging. Tapi apalah daya seorang Aldiman Leonardo C.A. Sinaga, setelah beberapa tahun bergelut dalam dunia bawah tanah ini dan kira-kira 2tahun bergelut dalam media alternatif(menjalankan REVIVAL Newsrockletter) saya belum pernah sekalipun merasakan yang namanya barter. HIks hiks hiks hiks....menyedihkan gak?? Hahahahahaha....
Dan ketika saya kirimkan kiriman saya ke Agung juga saya sama sekali gak ada bayangan kira-kira gimana nanti setelah dapat kiriman balasn. Dan ternyata, begitu saya buka isi kiriman Agung rasanya seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah mainan robot-robotan dari Ayah-nya di Ultah ke-5, hahahahahahahahaha.......... Senang, puas, bangga, dan yang pasti ber-semangat semua membaur menjadi satu. Segera saya bawa semua isi kiriman itu ke kamar saya dan saya amati satu persatu...Hahahahahahahaha..........
Buat Agung, nanti kita trade lagi yahhhh!!!!!!!!!!
Dan buat teman-teman dari kota-kota lainnya di seluruh dunia ini, kalau mau trade barang-barang sama saya bisa kok. Ayo kontak saya ajah, ataupun langsung kirim barang kalian ke alamat ini :

A.E.Christina Sitorus

PT.SUKA JAYA MAKMUR

Jl.Adisucipto , Km.5,3

PO.BOX 16

Pontianak-Kalimantan Barat

Indonesia



OKe, kalian gak usah bingung ataupun banyak tanya yahh...TInggal tulis aja tulisan diatas di tujuan kirim kalian(dijamin pasti sampai...). Dan akan saya kirim balik lagi kiriman yang setimpal...Hahahahahahahahahaa.............VIva La Trade!!!!!!!!!


*Buat review atas kiriman-kiriman nya Agung, akan saya post terpisah...cheers!!!

Rupanya capucino itu enak kalo 2 bungkus

Waktu ngerjain tugas meringkas materi SIA(Sistem Informasi Akuntansi) kemaren, akhirnya aku tahu kalau minum capuccino sachet itu enak banget kalau takarannya double. Jadi kalau kallian biasa make satu sachet doang untuk satu gelas seukuran kayak gambar diatas, ayo coba kalian tambahin jadi dua sachet. Awalnya saya juga gak ngira kalau rasanya lebih enak, iseng ajah saya tambahin takarannya jadi dua sachet. Dan kemudian pas diminum........Emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm, Nice!!!!!!!!




Akhirnya semangat pun terkumpulkan kembali untuk mengerjakan tugas. Tangan yang tadinya udah capek sekali nulis berlembar-lembar, kugunakan kembali untuk menulis berlembar-lembar berikutnya!!!! ;-P
Tapi akhirnya tugas tersebut pun bisa diselesaikan. Kira-kira total yang saya tulis adalah sebanyak 3 lembar kertas double-folio bergaris(Bayangin tuuuh!!!!). Tapi rasa lelah itu pun kemudian berganti menjadi rasa santai dan tenang sambil menikmati segelas Capuccino hangat double sachet.


Rabu, 20 Januari 2010

Habis jalan-jalan sendirian keliling Pontianak

Jalan-jalan sendirian, emang paling menyenangkan. Gak ada yang dipusingkan, hanya membiarkan motor ku berjalan, tanpa tujuan. Hahahahahahaha............Tadi aku jalan-jalan sendirian. Banyak sekali hal yang didapat dari jalan-jalan sendirian, mulai dari rumah mewah yang dibangung ditengah-tengah pemukiman sederhana, daerah-daerah yang sekarang sudah semakin berkembang pesat, aban-abang preman yang naik motor tanpa menggunakan helm dan gak perduli lampu merah, dan yang paling menyenangkan adalah Jembatan Sungai Kapuas. Jembatan sungai Kapuas adalah tempat paling favoritku. Jika kita berdiri diatas, kita bisa melihat pemandangan sungai Kapuas, dan juga kota Pontianak.
Owwwh, rasanya tak sabar menantikan jalan-jalan sendirian berikutnya....